Monday, April 30, 2007

Resolusi 26 Tahun

(Ini seharusnya diupload bulan Februari lalu-tapi nggak selesai…menunggu mood...akhirnya...baru hari ini bisa diupload, sudah mengalami beberapa perubahan seiring berjalannya waktu)

26 tahun! Sudah lebih dari seperempat abad…apa yang sudah kulakukan terhadap hidupku? Apa yang belum kulakukan?

Untuk pertamakalinya dalam hidupku aku merasa tua. Agak aneh juga...mungkin juga salah satunya karena disini dikelilingi oleh orang-orang yang jauh lebih muda yang begitu cerdas dan potensial juga melihat diri sendiri yang makin tua tapi masih seperti ini. Waktu aku ulang tahun, untuk pertama kalinya aku agak malas menjawab ketika ada yang tanya umurku berapa, dan hanya menjawab 'twenty something'. Tapi kemudian ya jujur juga, karena nggak ada gunanya juga ditutupi. Komentar manager ku di ISHR adalah 'that is disgustingly young!' seharusnya itu artinya bagus.

Aku masihlah perempuan yang sama. Masih self centered, narsis dan sendirian. Harus buat resolusi untuk jadi lebih baik.

Saat ini, berada di belahan bumi yang lain. Untuk pertama kalinya dalam hidup hidupku tinggal di luar keluargaku dan bersama orang lain selama 6 bulan sampai Juli 2007. Saat ini ku menjalani program magang di dua NGO internasional yang cukup ternama di Geneva (funded internship tentu saja, karena bagaimana mungkin dengan gajiku yang hanya skitar 200 CHF kalo pake uang sini-sementara untuk sekali makan rata-rata butuh 10 CHF- bisa nyampe kesini). Sesuatu yang harus selalu kusyukuri, karena banyak orang yang menginginkan berada di posisiku saat ini. Aku belajar banyak banget disini, Semoga juga ketika nanti aku balik ke Jakarta apa yang aku pelajari bisa dipraktekkan, minimal disebarkan seluas-luasnya kepada yang bisa mempraktekkan, biar nggak menguap begitu saja. Suatu tanggung jawab yang besar juga, mengingat dana yang dikeluarkan untuk membawaku ke sini dan biaya hidup yang demikian luar biasa mahalnya disini jika dihitung secara rupiah, dan dibandingkan dengan kebutuhan keluarga miskin yang kelaparan dan serba kekurangan, korban banjir…hmm…aku harus selalu mengingat hal ini setiap kali mulai merasa malas…aku harus membuktikan bahwa dana sebesar itu worth it dihabiskan untukku. Aku harus jadi lebih berguna dan mengaplikasikan skill yang kudapat disini untuk kepentingan rakyat yang lebih besar. Aku harus menjadi lebih berarti.

Kapal bocor hampir karam yang aku tinggalkan selama enam bulan ini di Jakarta, saat ini sudah mendapatkan nahkoda baru. Semoga mampu menerjang gelombang, dengan awak yang tersisa yang tidak tergoda untuk mencari sekocinya masing-masing untuk menuju kapal lain. Sejumlah kecil teman-teman dengan semangat dan idealisme yang saling mendukung, yang juga membuatku jadi lebih optimis kapal ini akan bertahan. Ke kapal itulah aku akan kembali..

Saat ini aku tetap niat untuk jadi advokat yang konsisten dengan bantuan hukum (sudah lulus ujian alhamdulilah, sudah dapat kartu sementara juga, tinggal nunggu verifikasi magang dan pengangkatan, smoga bisa tahun ini…) meski gajinya hanya sekedar layak untuk manusia lajang. Sementara teman-temanku telah memantapkan pilihan karirnya. Hakim, jaksa, PNS, diplomat, advokat di lawfirm besar, corporate legal, konsultan...bahkan wakil direktur. Sementara aku berhenti mengikuti rekrutmen karena merasa telah menemukan jalanku. Menjadi advokat bantuan hukum, yang menurutku adalah satu-satunya pekerjaan yang paling sesuai dengan misi hidupku, dan yang terpenting membuatku nyaman menjalaninya karena memberikan tingkat kebebasan yang aku inginkan. Pilihan yang mengandung konsekuensi…dimana saat ini teman-temanku yang bekerja di tempat lain sudah mencapai tingkat kemapanan finansial.

Saat ini aku bersyukur, aku telah bisa menjalani sebagian mimpiku, pekerjaan yang aku inginkan dan aku banggakan sebagai ekspresi diriku, keluarga dan cukup banyak teman yang memperhatikan dan menyayangi aku. (Ironisnya, ini mulai terdengar seperti lagunya The Corrs “All the Love in the World”). Aku bersyukur memiliki jaringan pertemanan yang cukup luas dan orang-orang yang mempercayai aku.

Katanya untuk bisa memotivasi diri kita menjadi lebih baik, kita harus memvisualisasi apa misi dan visi hidup, setiadaknya apa yang ingin kamu lihat dari dirimu nanti. Cara termudah untuk melakukannya adalah dengan membayangkan, kamu sudah meninggal dan siap untuk dimakamkan, dan di acara pemakaman tersebut orang-orang yang mengenalmu akan berbicara tentang apa yang diingat tentang dirimu. Hal ini juga pernah ditanyakan ketika aku mengikuti training effective teamwork beberapa bulan yang lalu.

Apa yang aku inginkan orang-orang ingat dari diriku ya? Hmm..mungkin aku ingin diingat sebagai orang yang suka menolong, perhatian dan penuh kasih sayang pada orang-orang di sekelilingku, idealis, pemberani, tangguh, seorang manusia pembelajar dan pejuang yang tak pernah berhenti memperjuangkan keadilan … aku juga ingin dalam hidupku yang singkat ini bisa menyentuh hati orang lain dan dengan suatu cara menginspirasi mereka untuk melakukan sesuatu yang baik.

Tentang rencana hidup, saat ini aku mulai fokus dan semangat dengan rencana melanjutkan studi. Harus tahun depan, mumpung masih semangat dan belum ada suatu hal yang bisa membuatku berpikir dua tiga atau empat kali. Semoga sebelum tahun depan tiba aku sudah mendapatkan beasiswa S2 di luar negeri untuk S2 HAM, hukum pidana atau hukum perburuhan internasional. Kalau memang nggak dapat, semoga saja hasil berhemat disini cukup untuk S2 di UI. Secara S2 di luar maupun di UI punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Kalau S2 nya di UI, mungkin aku masih bisa working part time di kantorku di Jakarta. Mungkin dalam sekitar 3-5 tahun ke depan aku masih akan kerja di LBH atau LSM apapun dimana aku masih bisa menjadi advokat bantuan hukum. Entah berapa lama lagi aku masih akan di tempat ini, atau mungkin berpindah pada lembaga dengan isu lain, mungkin lingkungan atau perburuhan atau kemiskinan.

Setelah sampai di Geneva, jadi terpikir juga untuk bekerja selama setahun di NGO internasional di dalam atau luar negeri setaelah kelar S2 hanya sekedar untuk mencari modal untuk bikin kantor sendiri. Tapi mudah-mudahan sih jangan sampai, aneh juga “menjual diri” seperti itu hanya untuk uang.

Ya, mimpiku adalah punya kantor sendiri, sebuah LBH atau mungkin jika belum mampu ya sebuah kantor hukum dengan subsidi silang, supaya aku bisa tetap memberikan bantuan hukum pro bono. Kantorku itu akan ada di dekat rumahku sendiri, supaya I don’t have to miss a thing about my children (tapi bagaimana mungkin …, calon bapaknya aja belum ketemu). Mungkin nggak di Jakarta, setidaknya di Tanggerang atau Kepulauan Seribu paling dekat (kalau yang ini sih khayal banget…kantor sekaligus rumahnya di pinggir laut, punya dermaga sendiri dan halaman yang luas, jadi bisa lihat sunset, dan kalau malam bisa buat menghitung bintang…).

Harus banyak belajar! Harus lebih cerdas baik secara keilmuan, emosional maupun spiritual. Menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarku (gaya hidup, budaya, kebiasaan,dan karakter masing-masing orang-tapi tetap jadi diri sendiri dong!). Memperdalam agama lebih baik lagi (salah satunya supaya aku bisa punya pemahaman komprehensif, bisa memberi argument yang tepat atas segala isu dan permasalahan terkait agamaku dan hal-hal kontroversial yang aku advokasi-misalnya aja LGBT, hak reproduksi…). Belajar hukum lebih dalam lagi supaya minimal aku bisa punya spesialisasi dalam satu subject (terutama hukum internasional untuk periode internship ini, karena ternyata aku sangat ketinggalan soal ini). Bahasa Inggris (karena ternyata aku masih gagap juga bekerja, terutama harus menulis berbagai tulisan dalam bahasa Inggris). Bahasa Perancis (karena ternyata Geneva adalah kota dimana penduduknya sebagian besar berbahasa Perancis dan capek juga selalu berbahasa Tarzan kalo harus ngobrol dengan masyarakat lokal yang gak bisa nginggris…).

Harus lebih mengembangkan “portofolio sosial”. Musti punya lebih banyak teman dan mengembangkan jaringan! Terutama ketika disini di tempat yang sangat jauh dan nggak banyak yang dikenal, aku benar-benar merasakan betapa berharganya punya teman dan jaringan. Dan karena sudah sampai disini, smoga ku bisa punya international network. Nggak kalah penting aku juga harus lebih memberi perhatian dan menyayangi keluarga dan teman-temanku saat ini. Aku juga harus menjaga kepercayaan mereka terhadapku.

Dan yang terpenting sepertinya saat ini aku harus berani melangkah ke depan dan melupakan masa lalu yang tidak menyenangkan. Memang nggak gampang, tapi aku tidak akan berhenti berusaha. Seperti kata Robbie Williams dalam lagunya “…no regret, they don’t work, they only hurt…”, aku tidak akan menyesali apa yang sudah terjadi, karena apapun itu, Allah punya rencana memutuskan hal itu terjadi padaku. Dan pengalaman hidup itulah, yang baik maupun buruk, yang menjadikan aku seperti, sekarang ini (dan semoga akan selalu menjadi pelajaran untuk jadi lebih baik). Sebagai penutup, seperti biasa ini adalah lagu “Masa Lalu Tertinggal” dari Peterpan yang baru pada tanggal 11 Februari 2007 aku benar-benar mendengarkan kata per katanya:

Masa lalu tertinggal

Dua belas jari-jari memegang roda putar bumi
Terhembus sisi panikku mengetuk rasa membawaku
Disini tersenyum di satu diriku melamun
Terangi sisi gelapku merenung arah menuntunku

Sadari langkahku
Di celah bumi ku terpaku
Mencari arti hidupku yang baru relakan nafasku

Kumenunggu datang terang biarkan gelap menghilang
Bantu aku tuk menunggu roda pembawaku

Kini kubiarkan masa lalu menghilang tanpa beban aku meninggalkan belakang
Lalu kubiarkan masa lalu menghilang dan tanpa beban aku meninggalkan belakang

(Thanks buat Fan yang nyemangatin buat ngupdate blog ini lagi, tapi sumpah aku melakukan ini bukan buat alasan yang kamu sebut itu…I am not that desperate bro!:)

1 comment:

Anonymous said...

Selamat ulang tahun bu...! Smoga dikasih panjang umur dan kesehatan. Karena panjang umur dan kesehatan ibu adalah anugerah bagi orang-orang yang tertindas dan termarjinalkan.

Ya, karena di pundak ibu, banyak orang yang menggantungkan harapan untuk dibantu menyelesaikan kasusnya.

Iya tuh bu... Blognya trus diupdate dunk...

Soalnya diam-diam banyak pembaca setianya lho....!

Hehehe....