Tuesday, August 22, 2006

Mengapa Harus Takut pada Matahari?


Aku ingin nyanyikan lagu
Buat orang-orang yang tertindas
Hidup di alam bebas
Dengan jiwa yang terpapas
Dengan jiwa yang terpapas

Kenapa harus takut pada matahari
Kepalkan tangan dan halau setiap panasnya
Kenapa harus takut pada malam hari
Nyalakan api dalam hati
Usir segala kelamnya

Aku ingin nyanyikan lagu
Bagi kaum-kaum yang terbuang
Kehilangan semangat juang
Terlena dalam mimpi panjang
di tengah hidup yang bimbang

Di lorong- lorong jalan
Di kolong- kolong jembatan
Di kaki-kaki lima
Di bawah menara
Kau masih mendekap derita
Kau masih mendekap derita

Aku ingin nyanyikan lagu
Tanpa kemiskinan dan kemunafikan
Tanpa air mata dan kesengsaraan
Agar dapat melihat surga
Agar dapat melihat surga

Kenapa harus takut pada matahari
Kepalkan tangan dan halau setiap panasnya
Kenapa harus takut pada malam hari
Nyalakan api dalam hati
Usir segala kelamnya
Usir segala kelamnya
Usir segala kelamnya

Lagu “Serenada” ini sepertinya pertamakali dipoulerkan oleh KPJ (Kelompok Penyanyi/Pengamen Jalanan?) tahun 80-an, yang salah satu anggotanya pada masa itu adalah Iwan Fals. Lagu ini sudah jadi lagu kebangsaan dari kaum miskin kota,dinyayikan oleh pengamen jalanan dari anak-anak sampai orang tua, bahkan begitu sering dinyanyikan oleh para anggota komunitas rakyat miskin kota untuk mengiringi perjuangan mereka, dalam berbagai diskusi komunitas, demonstrasi dan sebagainya. Sekarang lagu ini kembali dipopulerkan oleh dengan grup reggae Steven and the Coconut Trees. Sebuah lagu yang menyiratkan optimisme, keberanian menghadapi hidup.

Sekarang jadi salah satu nada dering di HP-ku..scara masih suasana hari kemerdekaan, smoga lagu ini tidak hanya bisa jadi lagu perjuanganku. Semoga dapat menginspirasi lebih banyak orang untuk berjuang bangkit dari ketertindasan.

7 comments:

saurlin said...

blog-nya bagus
maju terus..!!
semoga langit biru bisa
terisi dengan warnamu...
aku-juga suka biru,
buktinya emailku penabiru2004@yah00.com
dan perigibening@yahoo.com
met puasa.

qink. medan

Fan said...

Ya... Setuju.

Lagu itu memang bagus. Banyak memberi semangat pada orang yang punya komitmen untuk membela kaum tertindas. Kalo menyanyikan lagu itu, sy selalu teringat masa romantisme saat demo-demo ke gedung DPR/MPR di tahun 98 dulu. Lagu itu sering dinyanyikan di tengah-tengah demo mahasiswa.

2 bulan lalu, sy juga baru copy lagu ini ke dalam komputer sy dari hp seorang kawan.

Ok. salam kenal.

Fan

Wawan S said...

Ikatlah ilmu dengan menulisnya, bukannya itu kata Ali r.a.?? Sudahlah, yang penting ilmu dapat membawa manusia pada apa yang ia inginkan terutama ia bisa keluar dari kegelapan plus kebuntuan langkah.
Well... setiap sikap dan tindakan sebetulnya pena yang tengah kita tulis menjadi jejak sejarah kehidupan, terlepas apakah kebaikan atau sebaliknya, namun hidup ini terus mengalir dan meninggalkan mereka yg lalai dan statis karena terlena dengan sikap menyesuaikan diri. Padahal perubahan dimulai dari orang-orang yang tidak bisa menyesuaikan diri, terutama pada ranah sosial yang patriarki.

Semoga langitmu tetap biru, tapi ingat, tak selamanya langkah menjejak pada bidak yang datar, karena hidup adalah tantangan dan ujian, hal itu cukup untuk membuktikan bahwa Tuhan mu (Allah SWT) adalah Sang Pendidik yang Maha Cerdas dan bertanggung jawab atas apa yang Ia ciptakan.

Wawan S

piki said...

aku denger lagu ini dinyanyikan temen-temen pengamen di bis yang ngetem, waktu jalan dari sukabumi ke pelabuhan ratu.

boleh ku kopi liriknya yaa...

sekalian kalo ada MP3nya aku mau doong..:)

maen juga ke blog ku yaa..

piki - bandung

Anonymous said...

Aku suka bangt lagu ini..
Bagi donk ringtone_nya,,,,

ronal endiho blog said...

misi, mau kopy lagunya. salam KPJ

Anindhaa tary said...

setuju bngett